Bencana banjir bandang dahsyat melanda wilayah Nepal dan menyebabkan sedikitnya 157 orang tewas serta ratusan lainnya hilang. Para ahli geofisika mengungkapkan bahwa musibah ini berawal dari peristiwa geofisika skala masif di Pegunungan Himalaya, di mana runtuhan tanah dan batuan besar meluncur hebat hingga meluruhkan bagian gletser di celah pegunungan. Getaran akibat longsoran material tersebut bahkan terdeteksi oleh seismograf di berbagai belahan dunia sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2.
Menurut penjelaskan pakar geofisika dari Universitas Columbia, Goran Ekstrom, longsoran batu dalam skala raksasa tersebut menghasilkan energi amat besar yang menaikkan suhu di sekitarnya secara mendadak. Kenaikan suhu ini seketika mencairkan es gletser dan menciptakan gelombang air bah bercampur reruntuhan material setinggi 39 hingga 48 meter. Aliran deras bak tsunami meluncur ke arah lembah dan pemukiman dengan kecepatan mencapai 44 mil per jam, menghancurkan area di bawahnya dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, ilmuwan menyoroti keterkaitan fenomena ini dengan perubahan iklim global yang kian mempercepat pemanasan di kawasan pegunungan. Pencairan gletser yang dipicu oleh lonjakan suhu bumi dinilai meningkatkan frekuensi terjadinya tanah longsor di wilayah Himalaya, sehingga memperbesar risiko dan dampak kerusakan bencana banjir bandang di masa depan.