Foto: IDRC/Ilustrasi Redaksi
Foto: IDRC/Ilustrasi Redaksi

ICRC: Rupiah Tembus Rp17.884 per Dolar AS, Kelas Menengah Terancam Tekanan Ganda

Lembaga Survei ICRC (Ide Cipta Research and Consulting) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.865 hingga Rp17.884 per dolar AS berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perekonomian domestik. Dalam kajian terbarunya, ICRC menemukan bahwa isu kebijakan subsidi dan fiskal pemerintah menjadi perhatian publik terbesar dengan porsi 59,26 persen dari 54 dokumen yang dianalisis. Direktur Eksekutif ICRC, Hadi Suprapto Rusli, menyebut fenomena tersebut sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, ketika harga domestik relatif tertahan sementara pasar valuta asing bergerak ekstrem. “Dampaknya merembet ke sektor riil melalui kenaikan biaya produksi dan menciptakan risiko double squeeze bagi masyarakat kelas menengah,” terang Hadi kepada EGI Media, Selasa (2/6).

Menurut ICRC, depresiasi rupiah dapat mendorong kenaikan biaya input produksi sektor manufaktur hingga 50 persen, sementara kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen berpotensi memperberat cicilan kredit perumahan dan otomotif. Di tengah tekanan tersebut, ICRC juga menyoroti program bantuan kemasyarakatan presiden (Banmaspres) senilai Rp100 miliar untuk pengadaan 1.098 ekor sapi lokal premium sebagai salah satu instrumen perlindungan sosial negara. Analisis terhadap 35 dokumen menunjukkan isu regulasi anggaran dan legitimasi hukum APBN mendominasi pembahasan dengan persentase 62,86 persen.

Hadi menegaskan program Banmaspres memiliki dasar hukum yang kuat dan sah digunakan sebagai instrumen redistribusi sosial. “Kritik publik mengenai pengadaan sapi kurban menggunakan uang negara dijawab secara tegas oleh regulasi. Program ini memiliki landasan hukum kuat pada UU APBN 2026 dan Permensesneg Nomor 2 Tahun 2020 tentang Bantuan Kemasyarakatan Presiden,” kata Hadi. Selain dinilai memberikan manfaat bagi peternak lokal, program tersebut juga diharapkan membantu pemerataan distribusi bantuan pangan ke berbagai daerah, sementara ICRC merekomendasikan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menghadapi tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.

Bagikan artikel ini: