Jalur Sutra selama ini dikenal sebagai jaringan perdagangan kuno yang membawa sutra dari Tiongkok ke berbagai wilayah Eurasia. Namun, mengutip unggahan edukatif akun Instagram Qalam Global (@qalam.global), awal mula terbentuknya Jalur Sutra justru dipicu oleh pencarian kuda-kuda unggulan dari Lembah Fergana di Asia Tengah. Kuda yang dikenal sebagai Tianma atau “Heavenly Horses” itu disebut memiliki kecepatan, daya tahan, dan kekuatan luar biasa sehingga menjadi aset militer yang sangat berharga bagi Dinasti Han pada abad ke-2 sebelum Masehi.
Masih menurut Qalam Global, pada tahun 138 SM utusan Dinasti Han, Zhang Qian, melakukan ekspedisi ke Asia Tengah untuk mencari sekutu menghadapi bangsa Xiongnu. Dalam perjalanan tersebut, ia menemukan Kerajaan Dayuan di Lembah Fergana yang terkenal dengan kuda-kuda legendarisnya. Setelah upaya diplomasi untuk membeli kuda terbaik gagal, Kaisar Wu dari Han memerintahkan ekspedisi militer sejauh lebih dari 4.000 kilometer ke arah barat. Konflik itu berakhir dengan Dayuan menyerahkan sejumlah kuda elit dan membuka hubungan yang semakin intens antara Tiongkok dan Asia Tengah.
Qalam Global menjelaskan, jalur yang awalnya dibuka demi memperoleh kuda Fergana kemudian berkembang menjadi rute perdagangan lintas benua yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Melalui jalur tersebut, tidak hanya sutra yang diperdagangkan, tetapi juga logam mulia, teknologi, agama, serta berbagai gagasan yang membentuk peradaban Eurasia. Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa sebelum menjadi simbol perdagangan global, Jalur Sutra berakar pada kebutuhan strategis akan kuda perang yang kemudian menghubungkan Timur dan Barat selama berabad-abad.